Hallo. Tangerang siang ini, dirumah bapak gw terbuat dari beberapa bahan yang
sederhana. Selamat siang, dan selamat pukul 11:44. Silahkan terus berpikir bagi
yang ingin.
Barusan, diwaktu lagi asik nikmatin kupi dicampur dengan
lagunya God Forbid yang judulnya Chains of Humanity sambil menatap santai layar
PC yang dihalamannya ada situs Twitter. Tetiba, terdengar suara notifikasi dari
handphone gw yang seharusnya tetap istiqomah dengan kesepiannya. Dan, udah
keduga, kalo yang sms itu pasti bukan dari orang-orang yang gw kenal maupun
sebaliknya, hmm. “kasian yah hp gw?”, “Engga sih, woo..”. Terpampang jelas
disitu, dilayar hp, nomor yang sms. Ga ada namanya, cuma nomor yang didepannya
ada lambang + nya. Isinya, lagi-lagi
yang menurut gw udah bosen banget gw bacanya, apa lagi liat. Abis, ya, gimana,
ibarat kayak ngeliat cewek dengan busana yang serba kebuka aja, gitu. Di liat,
dosa, jatohnya kayak zinah mata. Kalo ga di liat ya.... Mubazir. Eh! Ga ga ga!
Ga di liat ya keliatan gitu, maksudnya ha ha :p.
Isinya, “transfer ke rekening saya. Nama: ****, rekening:
****”. Ya, seolah-olah kayak lagi main judi gitu. Berharap keberuntungan lewat
orang-orang yang lagi diposisi sekiranya tepat buat kena sial. Keren ya,
usahanya? Bisa dibilang kreatif juga sih, pffttzz. Tapi, ga gitu juga kalee..
#AlaSketsa. Dengan modal pulsa sekian rupiah beserta bonus-bonusnya. Mereka
sampe rela-relain ngejebak orang lain demi jumlah rupiah yang berkali-kali
lipat dari itu. Oh, Gott. Jadi, mesti gimana dong sama peristiwa yang lumayan
keji kayak gitu? Prihatin? Kesel? Atau bodo amat? Hmm.
Kalo menurut gw pribadi, semua opsi yang ada diatas sah-sah
aja. Ga salah juga. Lho? Kok?! Kenapa?!. Iya, yang salah mah, tuh, yang
dipenjara! #JustKidding :D. Iya, bener, kan masing-masing punya pilihan. Tapi,
kalo bisa tentuin pilihan yang tepat dan bermanfaat. Kayak gw, ha ha ^_^v.
Prihatin adalah pilihan gw yang gw sendiri pikir tepat. Kenapa?. Ya, menurut gw
kita udah semestinya ngeliat kondisi dari masalah yang udah berlarut-larut
kayak gitu. Budaya negatif yang udah cukup lama mendarah daging di tanah air
kita ini. Lihat mereka, yang sampe begitunya untuk nyari uang lebih. Udah ga
bisa terkontrol, baik atau engga cara yang mereka pakai. Mungkin ini bisa
dibilang, ada kaitannya sama faktor budaya bangsa kita. Yang kuat, sangat kuat
dalam bertahan atas kekurangan, apapun. Karena terlalu kuatnya, kita gampang
terpengaruh sama apa yang terus mencoba menjajah rakyat kita. Contohnya, sebut
saja “modernisasi”. Suatu hal yang udah ga mungkin banget bisa dihindarin.
Modernisasi itu identik dengan segala sesuatu yang membuat
kita mudah, atau instant. Ya begitu juga dengan pola pikir yang udah sukses
bikin rakyat jadi pengikutnya. Ingin maju setara dengan negara-negara maju
lainnya. Tapi bukan dengan cara yang tepat, cara yang sebelumnya digunakan oleh
negara-negara maju itu sendiri. Nah, yang lebih repotnya lagi, para
pemimpin-pemimpin (yang udah terlajur jadi) ini juga ikut-ikutan.
Makin-makinlah -_-.
Oke, jadi, yang sempat terpikirkan oleh akal gw yang
kedangkalan belum diketahui ini adalah, coba disini ada suatu organisasi, tim,
gerakan, atau apalah itu namanya (maaf belum paham). Berupaya buat menyetarakan
perekonomian untuk rakyat menengah kebawah, menengah, dan bukan untuk kalangan
atas dulu. Terus, bikin supaya kalangan atas itu ngerasa kayak dikucilkan,
dalam artian “ah, kekayaan gw kayak ga dianggep disini, gw coba bersetara sama
yang lainnya ahh”. Sehingga rakyat bisa hidup tanpa kecemburuan sosial, yang
bisa bikin segala kenegatifan jadi aktif lagi. Contoh misalnya kayak sistem “sodaqoh”.
Sodaqoh adalah kegiatan saling berbagi, terutama untuk yang punya harta lebih,
yang juga punya fungsi: Mencegah bala, mencegah kejahatan, menjalin silaturahmi
yang kuat, dan banyak lagi. Ya, kurang lebih.
Nah, penerapan yang kayak diatas itu, coba diterapin sampe
semuanya berjalan stabil dan merata. Mudah-mudahan negara kita ini bisa maju
secara perlahan. Apa lagi kalo ditambah kehendak Allah, beuh, makin mantabbb.
Ya, mudah-mudahan he he.
Tapi, sebentar deh, berhubung tulisan diatas itu baru
sebatas imajinasi liar gw, dan gw pun belum paham sepenuhnya. Kira-kira, itu,
gimana bisa ya? Caranya gimana, coba? Hahahaha.