Sabtu, 02 November 2013

Gimana bisa? Caranya?

Hallo. Tangerang siang ini, dirumah bapak gw terbuat dari beberapa bahan yang sederhana. Selamat siang, dan selamat pukul 11:44. Silahkan terus berpikir bagi yang ingin.

Barusan, diwaktu lagi asik nikmatin kupi dicampur dengan lagunya God Forbid yang judulnya Chains of Humanity sambil menatap santai layar PC yang dihalamannya ada situs Twitter. Tetiba, terdengar suara notifikasi dari handphone gw yang seharusnya tetap istiqomah dengan kesepiannya. Dan, udah keduga, kalo yang sms itu pasti bukan dari orang-orang yang gw kenal maupun sebaliknya, hmm. “kasian yah hp gw?”, “Engga sih, woo..”. Terpampang jelas disitu, dilayar hp, nomor yang sms. Ga ada namanya, cuma nomor yang didepannya ada lambang + nya. Isinya, lagi-lagi yang menurut gw udah bosen banget gw bacanya, apa lagi liat. Abis, ya, gimana, ibarat kayak ngeliat cewek dengan busana yang serba kebuka aja, gitu. Di liat, dosa, jatohnya kayak zinah mata. Kalo ga di liat ya.... Mubazir. Eh! Ga ga ga! Ga di liat ya keliatan gitu, maksudnya ha ha :p.

Isinya, “transfer ke rekening saya. Nama: ****, rekening: ****”. Ya, seolah-olah kayak lagi main judi gitu. Berharap keberuntungan lewat orang-orang yang lagi diposisi sekiranya tepat buat kena sial. Keren ya, usahanya? Bisa dibilang kreatif juga sih, pffttzz. Tapi, ga gitu juga kalee.. #AlaSketsa. Dengan modal pulsa sekian rupiah beserta bonus-bonusnya. Mereka sampe rela-relain ngejebak orang lain demi jumlah rupiah yang berkali-kali lipat dari itu. Oh, Gott. Jadi, mesti gimana dong sama peristiwa yang lumayan keji kayak gitu? Prihatin? Kesel? Atau bodo amat? Hmm.

Kalo menurut gw pribadi, semua opsi yang ada diatas sah-sah aja. Ga salah juga. Lho? Kok?! Kenapa?!. Iya, yang salah mah, tuh, yang dipenjara! #JustKidding :D. Iya, bener, kan masing-masing punya pilihan. Tapi, kalo bisa tentuin pilihan yang tepat dan bermanfaat. Kayak gw, ha ha ^_^v. Prihatin adalah pilihan gw yang gw sendiri pikir tepat. Kenapa?. Ya, menurut gw kita udah semestinya ngeliat kondisi dari masalah yang udah berlarut-larut kayak gitu. Budaya negatif yang udah cukup lama mendarah daging di tanah air kita ini. Lihat mereka, yang sampe begitunya untuk nyari uang lebih. Udah ga bisa terkontrol, baik atau engga cara yang mereka pakai. Mungkin ini bisa dibilang, ada kaitannya sama faktor budaya bangsa kita. Yang kuat, sangat kuat dalam bertahan atas kekurangan, apapun. Karena terlalu kuatnya, kita gampang terpengaruh sama apa yang terus mencoba menjajah rakyat kita. Contohnya, sebut saja “modernisasi”. Suatu hal yang udah ga mungkin banget bisa dihindarin.

Modernisasi itu identik dengan segala sesuatu yang membuat kita mudah, atau instant. Ya begitu juga dengan pola pikir yang udah sukses bikin rakyat jadi pengikutnya. Ingin maju setara dengan negara-negara maju lainnya. Tapi bukan dengan cara yang tepat, cara yang sebelumnya digunakan oleh negara-negara maju itu sendiri. Nah, yang lebih repotnya lagi, para pemimpin-pemimpin (yang udah terlajur jadi) ini juga ikut-ikutan. Makin-makinlah -_-.

Oke, jadi, yang sempat terpikirkan oleh akal gw yang kedangkalan belum diketahui ini adalah, coba disini ada suatu organisasi, tim, gerakan, atau apalah itu namanya (maaf belum paham). Berupaya buat menyetarakan perekonomian untuk rakyat menengah kebawah, menengah, dan bukan untuk kalangan atas dulu. Terus, bikin supaya kalangan atas itu ngerasa kayak dikucilkan, dalam artian “ah, kekayaan gw kayak ga dianggep disini, gw coba bersetara sama yang lainnya ahh”. Sehingga rakyat bisa hidup tanpa kecemburuan sosial, yang bisa bikin segala kenegatifan jadi aktif lagi. Contoh misalnya kayak sistem “sodaqoh”. Sodaqoh adalah kegiatan saling berbagi, terutama untuk yang punya harta lebih, yang juga punya fungsi: Mencegah bala, mencegah kejahatan, menjalin silaturahmi yang kuat, dan banyak lagi. Ya, kurang lebih.

Nah, penerapan yang kayak diatas itu, coba diterapin sampe semuanya berjalan stabil dan merata. Mudah-mudahan negara kita ini bisa maju secara perlahan. Apa lagi kalo ditambah kehendak Allah, beuh, makin mantabbb. Ya, mudah-mudahan he he.


Tapi, sebentar deh, berhubung tulisan diatas itu baru sebatas imajinasi liar gw, dan gw pun belum paham sepenuhnya. Kira-kira, itu, gimana bisa ya? Caranya gimana, coba? Hahahaha.

Jumat, 01 November 2013

Do'a? Berdo'a?

Bismillahirrahmanirrahim. Salam-salam hai saudaraku, semoga Allah merahmatimu (“,)/

Hari ini, jum’at siang, 1 November 2013 tepat pukul 13:43 Waktu Indonesia bagian Kota Tangerang, yang kondisi langitnya sedikit mendung. Masih bersama kawan setia, juga Lamb of God dengan judul lagunya One Gun yang juga masih setia menyanyikan lagunya buat gw. Oh, iya, juga ada segelas kupi yang isinya udah habis sebagian, diminum. Sambil terus mengingat, ada suatu hal yang cukup menarik buat gw. Ya, Allah emang selalu Maha Baik. Selalu ngasih gw inspirasi disetiap saat. Yang biasanya selalu mubazir karena ga gw simpan sebagaimana mestinya. Hmm..

Disela waktu gw tidur sebelum akhirnya gw berangkat ke masjid buat sholat Jum’at. Ada yang sempat tergambarkan, yaitu waktu gw belum juga beranjak tidur sampe menjelang waktu subuh tadi. Apa itu? Itu tentang bagaimana cara berdo’a atau do’a menurut akal gw yang nangkep sesuatu lewat radarnya. Hmm, kenapa gw bilang “berdo’a” atau “do’a”?. Ada sesuatu yang cukup menarik juga dari situ. Jadi, waktu gw lagi nghadirin acara dzikir Manaqib mingguan bareng Guru beserta jama’ah majelisnya disuatu tempat didaerah kota Tangerang setiap hari Jum’at malem. Sempet ngebahas apa perbedaan antara do’a dengan berdo’a, dzikir dengan berdzikir, sholawat dengan bersholawat, sembahyang dengan sholat, dsb. Ada yang tahu? Sekilas emang kayak ga ada bedanya. Cuma karena ada tambahan imbuhan “ber-“ yang bisa diartikan “sedang melakukan”, ya gw pikir. Tapi, berhubung pola pikir Guru gw itu keren. Beliau sering nemuin kalimat atau peristilahan yang sering dibilang ala “MD (nama majelis)”, mungkin melambangkan bahwa itu emang hasil penemuan pribadi (ga nyontek dari orang lain) ha ha.

Oke, yang pertama: do’a dengan berdo’a, seperti yang kita tahu, do’a adalah permohonan (harap, permintaan) kepada Tuhan. Kita para pendo’a tentu udah ga asing, iya kan? :D. Gimana dengan berdo’a? Menurut Guru gw, tentu ada bedanya. Kalo do’a adalah memohon, sedangkan berdo’a adalah bentuk kerjanya. Seperti berusaha, ikhtiar, dll, begitu. Jadi, kalo kita cuma do’a mulu gitu, ya ga usah heran kalo terkadang Allah belum juga kabulin. Kita sebagai pendo’a juga pasti udah harus dan mesti paham kan sama syarat dan ketentuannya? Karena syarat dan ketentuan itu selalu berlaku bagi kita makhlukNya! Kalo ga percaya coba ditafakurin he he. Allah emang ga adil tapi DIA Maha Adil! 

Kita harus usaha dulu, paling engga “kita mesti punya kesiapan buat ngejemput keberuntungan” (kutipan dari seorang sahabat). Supaya kita punya kepantasan buat keberuntungan itu sendiri. Salah satu contoh, misal kita do’a (minta) supaya dikasih jodoh yang baik rupa maupun akhlaknya. Kalo kita sendiri ga ada upaya buat jadi demikian, kan kasian si calon pasangan yang bakal jadi jodoh kita ha ha ha.

Untuk yang sudah tau, belum tau, tidak ingin tahu, yang tinggal dibumi, ataupun bukan. Yakinlah, bahwa hidup ini terdapat sistem pemantasan diri. Jika kita pantas, kita akan mendapatkannya apapun itu. Jika belum, maka bersabarlah dan terus berusaha untuk mendapatkan kepantasan itu. Allah itu Maha Baik, kita yang ga/lupa berdo’a untuk terus dikasih nafas kehidupan aja dikasih, apa lagi berdo’a. Allah tahu apa yang terbaik yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.


Sekian dan terimakasih. Salam sayang untuk para Nabi, Rasul, Malaikat, Wali, Kekasih Allah, juga para Guru, semua makhluk, dan semesta. Sampai jumpa.. (“,)/